Jumat, 20 November 2009
Resensi buku laskar pelangi
Pengarang : Andrea Hirata
Penyunting : Suhindrati a. Shinta
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Jumlah Halaman : xviii + 534
Tahun Terbit : September 2005 (Cetakan Pertama, November 2007 (cetakan keduabelas).
Saya merasa ”norak habis” untuk membuat resensi buku Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Karena baru beberapa minggu atau hari lalu saya membeli buku dan membacanya tanpa henti. Sementara seribu lebih pembaca (per akhir Desember 2007) telah berkomentar dalam www.sastrabelitong.multiply.com sejak diterbitkan Laskar Pelangi di bulan September 2005. Lebih dari dua tahun lalu. Seratus persen berisi sanjungan untuk Andrea Hirata. Dan payahnya, saya belum juga mendapat kesempatan sebagai kesekian ribu penggemar Andrea dalam website (blog) tersebut karena saking banyaknya pengunjung, dan saking ”lemot”-nya internet di rumah. Namun tak apa-apa, setidak-tidaknya bisa berbagi dan berdiskusi dengan teman-teman sesama anggota CB-33.
Laskar Pelangi, walau dengan kualitas kertas di bawah buku Sang Pemimpi maupun Edensor, adalah ”ruh” awal yang diletakkan oleh Andrea untuk buku selanjutnya : Sang Pemimpi dan Edensor. Walau di dalam Sang Pemimpi dan Edensor, tokoh-tokoh awal Laskar Pelangi hanya disinggung sedikit, dan seakan sambil lalu. ”Ruh” awal sesungguhnya adalah jiwa atau pribadi si tokoh cerita : Ikal. Ikal tokoh tengil, cerdas, rendah hati, mudah penasaran terhadap sesuatu yang baru, suka bertualang, romantis, bertanggungjawab, mempunyai kegigihan dalam mencapai sesuatu, dan secara visual berambut keriting. Kegigihan dan kepercayaan akan tercapainya sesuatu digambarkan bukan serta merta tumbuh dari diri Ikal, namun di-”inisiasi” oleh tokoh-tokoh dan kondisi lingkungan Ikal sehari-hari. Tokoh Ikal terbaca sebagai Andrea Hirata. Karena Andrea bercerita mengalir seperti bila Sdr. Sunaryo Broto bercerita soal jalan-jalannya di Mesir, ataupun bila saya sendiri bercerita tentang pengalaman saya dengan lancar, seakan kenangan tersebut terekam kembali di pelupuk mata. Dalam http://pencintabuku.wordpress.com bahwa Andrea mengaku novel ini awalnya hanya merupakan catatan kenangan terhadap masa kecilnya di Belitong (bahkan juga pengalaman kehidupan dewasa yang dialaminya baru-baru saja dalam Edensor, dan agak baru dalam Sang Pemimpi).
Laskar Pelangi sesungguhnya adalah wajah kehidupan sebagian besar anak-anak Indonesia di era tahun 70 – 80’an, atau bahkan saat ini. Hidup prihatin, itu bagi kacamata orang dewasa yang mapan, dan menjadi ”emangnya gue pikirin” dan ”enjoy-enjoy saja” bagi anak-anak. Yang penting bermain dan bergembira, makan seadanya, kalau lelah tidur. Beres deh!. Walaupun pengalaman Andrea lebih spektakuler karena dia hidup di pulau yang keras namun indah : Pulau Belitong. Saya bayangkan betapa penghuni pulau tersebut kadang ”merasa sendirian” bila berjalan memutari pulau Belitong yang dikelilingi oleh lautan luas! Namun si Ikal and his gang-nya memanfaatkan kondisi lingkungan ini dengan penuh keceriaan dan syukur (yang awalnya mungkin suatu bentuk kepasrahan dari kondisi keseharian yang selalu dihadapi), yang nantinya akan bermanfaat bagi kehidupan selanjutnya. Andrea menggambarkan bagaimana kondisi pendidikan dari yayasan Muhammadiyah dengan sangat menyentuh. Ibu guru Muslimah yang mempunyai semangat tinggi mendorong siswa-siswanya agar menjadi seorang yang ”berhasil” dengan semangat tanpa tanda jasa (mengingatkan saya akan Bapak saya, baik sebagai seorang pendidik ataupun sebagai orang Muhammadiyah yang juga terlibat dalam yayasan pendidikan Muhammadiyah dan bersemangat ’45, tak jauh berbeda dengan Pak Harfan dan Bu Muslimah).
Dalam Laskar Pelangi kita diajak oleh Ikal untuk bertualang bersama anggota Laskar Pelangi yang lain : Lintang, Trapani, Mahar, Borek, Kucai, Sahara, A Kiong, Syahdan, dan Harun. Sepuluh anak. Memenuhi syarat agar SD Muhammadiyah Belitong masih tetap ada! Dalam Laskar Pelangi ini Ikal berkenalan dengan A Ling, kekasih platonisnya, yang selalu menyemangati hidup Ikal hingga dalam buku Edensor (mungkin hingga sekarang).
Seputar kehidupan PN (sebutan untuk Perusahaan Negara Timah Belitong) dikupas tuntas sesuai kaca mata Ikal yang terang benderang dengan metafora-metafora-nya yang pede habis.
Kehidupan sebagai anak pegawai rendahan PN, anak laut, siswa yang belajar di bawah gedung sekolah reyot (namun dinaungi oleh pohon filicium yang rindang dan merupakan satu komunitas yang dipenuhi oleh keceriaan hidup berbagai makhluk), bermain di saat hujan, perlombaan antar sekolah, dan euforia kemenangan khas anak-anak, memenuhi cerita ceria Ikal di masa anak-anak (SD) hingga menjelang remaja (SMP). Di Bab akhir Laskar Pelangi, Ikal bercerita tentang duabelas tahun kemudian setelah lulus SMP, dan bagaimana potret kesepuluh pasukan Laskar Pelangi di saat itu.
Sang Pemimpi, buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi. Dengan warna cover yang agak suram (abu-abu) dibandingkan cover buku pertama yang cerah merah jambu dengan siluet sekelompok anak bermain di pinggir laut. Cover ini bergambar seorang pria gagah yang merenung di ujung jalan kayu yang menjorok ke laut. Pose yang mengingatkan saya akan patung The Little Mermaide di pelabuhan Kopenhagen dengan versi lain (mungkin ini ide Andrea yang pernah juga singgah di Denmark selama berkeliling Eropa terobsesi oleh A Ling, tokoh cinta platonisnya, dalam buku ketiga : Edensor). Bercerita tentang seputar kehidupannya di masa SMA dan kebanggaannya dapat bersekolah di SMA Bukan Main, SMA Negeri Belitong. Sebuah SMA favorite di Pulau Belitong.
Dalam Sang Pemimpi, tokoh-tokoh pemberani tidak lagi berjumlah sepuluh orang lagi, namun ”hanya” tiga orang. Tanpa satupun dari kesembilan anak di Laskar Pelangi muncul lagi sebagai tokoh bersama Ikal. Mungkin karena keterbatasan mereka untuk dapat mendaftarkan diri ke sekolah menengah atas. Sesuai dengan kenyataan dalam masyarakat kita hingga hari ini bahwa tingkatan pendidikan tersebut masih dianggap cukup tinggi dan memerlukan biaya yang cukup besar. Hanya Ikal, Arai, dan Jimbron saja dari kampung mereka yang dapat melanjutkan ke SMA. Dalam buku pertama, saya tidak begitu mengerti mengapa Arai sama sekali tidak disebut-sebut oleh Andrea, padahal Arai sudah diangkat sebagai anak oleh Ayah Ikal pada saat Ikal juga masih SD. Sebagai pembaca, saya anggap cerita Laskar Pelangi ”seakan terputus” dengan Sang Pemimpi dalam hal satu ini. Dalam Sang Pemimpi, peran Arai sangat terlihat jelas dalam kehidupan Ikal, seperti tokoh Lintang dalam Laskar Pelangi. Persahabatan ketiga orang ini begitu unik. Arai digambarkan sebagai sosok yang tegar, penyayang, dan optimis. Sedangkan Jimbron, bertubuh besar, namun penakut, dan terobsesi akan kuda. Semangat hidup Ikal cukup banyak tergantung pada Arai. Saudara jauh yang sangat menyayangi dan melindunginya. Walau perawakan mereka hampir sama ”kecilnya”.
Dalam buku Sang Pemimpi banyak pengalaman lucu yang diceritakan oleh Andrea perihal Ikal, Arai, dan Jimbron. Soal bersembunyi dari kejaran guru galak, sampai masuk ke box pendingin ikan, sembunyi-sembunyi melihat film orang dewasa di bioskop yang membuat berdesir darah mudah mereka, hingga soal detik-detik penerimaan rapor mereka yang juga mempertaruhkan harga diri orang tua mereka masing-masing, karena ini menyangkut rangking di sekolah yang diumumkan di depan seluruh orang tua murid!
Betapa Andrea pandai sekali membuat pembaca terharu, membayangkan bagaimana ayah Ikal selalu memakai baju safari satu-satunya yang semalaman sudah diuapin dengan daun pandan untuk acara penerimaan rapornya, dengan mengayuh sepeda sejauh 30 km menuju SMA Bukan Main. Di akhir Bab, Andrea menggambarkan kepergian Ikal dan Arai untuk memeluk mimpi-mimpi mereka, seperti beribu-ribu penduduk Indonesia, menuju kota harapan, kota metropolitan : Jakarta!
Opini
Ilmu pengetahuan jelas penting. Peradaban menjadi besar dengan adanya ilmu pengetahuan. Manusia berbeda dengan binatang dengan adanya ilmu pengetahuan, berakhlak dengan ilmu pengetahuan, berbudaya dengan ilmu pengetahuan dan beradab dengan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan merupakan anugerah dan rahmat Tuhan yang sangat berharga dan bernilai, entah mau diakui ataupun tidak.
Manusia terlahir nyaris tanpa ilmu pengetahuan sama sekali kecuali pengetahuan-pengetahuan naluriah seperti rasa sakit, bagaimana menangis dan hal-hal naluriah lainnya. Maka pengetahuan manusiawi diajarkan sehingga manusia menjadi paham terhadap ilmu dan mengetahui berbagai hal yang perlu diketahuinya. Inilah peran guru yang memang sepantasnya dihargai. Kita tentunya mengenal istilah 'pahlawan tanpa tanda jasa' yang dialamatkan kepada profesi mulia ini. Tentu, sebenarnya tidak adil juga jika gelar ini merupakan hak eksklusif milik guru semata. Tak adil jika tak ada yang boleh disebut dengan 'pahlawan tanpa tanda jasa' selain guru, maksudnya bahwa tak ada pahlawan selain guru.
Ada banyak pahlawan dalam masyarakat selain guru. Pembantu rumah tangga yang melayani majikannya secara baik merupakan pahlawan, tukang sampah yang menjalani profesinya dengan penuh komitmen terhadap kebersihan lingkungan juga pahlawan, polisi yang benar-benar melindungi masyarakat juga pahlawan, anak yang berbakti kepada orang tuanya juga pahlawan, pejabat yang benar-benar menjabat tidak untuk kepentingan pribadi dan benar-benar menjabat dengan baik juga pahlawan. Daftar ini sudah banyak, pun masih sedikit jika dibandingkan dengan banyaknya pahlawan-pahlawan lain dalam masyarakat yang tak tercantum di sini. Daftar ini belum final dan masih bisa bertambah jumlahnya.
Maka kesimpulannya ada banyak pahlawan dalam masyarakat selain guru. Pun demikian peran guru, yaitu guru yang baik tentunya, sebagai pahlawan dalam masyarakat tak bisa diabaikan dan jangan sampai diabaikan. Bagaimanakah jadinya masyarakat tanpa guru. Masyarakat tanpa ilmu.
Masyarakat terus berkembang semenjak peradaban pertama manusia dibentuk yang itu entah kapan dan dimana persisnya terjadi. Pada saat itu wajarnya sudah ada ilmu pengetahuan. Bahkan tanpa peradaban, dalam waktu sebelum manusia hidup dengan bentuk-bentuk cara hidup yang tergolong sebagai peradaban, itupun kalau saja manusia pernah mengalami masa-masa peradaban, maka waktu itupun sewajarnya ada ilmu dan ada transfer ilmu antar generasi dan ada bentuk-bentuk kegiatan belajar-mengajar antar manusia. Karena manusia bukanlah binatang yang hidupnya sendiri-sendiri secara naluriah. Karena manusia bukanlah binatang yang selama hidupnya dari hari pertama lahir hingga detik-detik terakhit ajalnya tak mempelajari sesuatu apapun hal baru. Dengan adanya kegiatan belajar yang sudah alami berada pada kehidupan manusia dan kegiatan melakukan kontak sosial dengan manusia lain maka sudah sewajarnya pula terjadi bentuk belajar-mengajarkan sesuatu meskipun sesederhana apapun hal yang diajarkan itu dan meskipun betapa pun primitif metode belajar-mengajar tersebut.
Tentu tak bisa dibayangkan bahwa terjadi metode belajar-mengajar masa kini berada pada sebuah kebudayaan masyarakat beribu tahun yang lalu dengan kondisi masyarakatnya tak menganggap penting ilmu pengetauan. Memang ada beberapa perkecualian beberapa kebudayaan besar masa lalu yang sudah mengehargai ilmu pengetahuan dan institusi pendidikan di tengah dunia primitif, Mesir Kuno dengan perpustakaan Alexandria-nya, Yunani dengan para ahli filsafatnya. Secara keseluruhan tetap sulit dibayangkan dalam sebuah dunia primitif ada sebuah kebudayaan, dengan beberapa perkecualian tadi, memiliki sebuah institusi pendidikan modern dengan dikelola manajemen organisasi yang modern dan profesional lengkap dengan kegiatan ekonomi -sistem pembayaran uang sekolah- dan perencanaan kegiatan belajar-mengajar dengan silabus yang terencana secara baik. Bahkan sulit dibayangkan adanya peran guru, maksudnya yaitu guru dalam pengertian sebuah profesi yang profesional yang kita yang pahami dalam kehidupan pada masa dan budaya kontemporer kita ini.
Maka dapat diambil satu kesimpulan lagi bahwa guru dalam konsep yang kita pahami sekarang ini sebenarnya merupakan konsep yang baru. Perkembangan konsep-konsep perndidikan sudah jauh berkembang dari semenjak jaman nenek moyang kita berabad lampau hingga masa kini, sehingga hal-hal seputar pendidikan yang kita kenal sekarang ini merupakan sesuatu yang sama sekali baru sekalipun kita melihatnya sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya ada. Mungkin jaman nenek moyang kita yang disebut guru adalah orang-orang bijak, sastrawan, cendekiawan dan agamawan yang dipercaya masyarakat untuk mengajarkan kesarjanaannya kepada generasi penerus dan mereka melakukannya dengan sukarela. Mungkin saja pada salah satu kebudayaan lain pendidikan dialkukan secara natural dalam masyarakat tanpa institusi pendidikan formal hanya meneruskan pengetahuan kepada generasi mudanya dengan cara para generasi muda tersebut menjalani kehidupan sehari-hari seperti para orang tuanya, dan dalam pengalamannya itu dia belajar. Dan mewarisi pengetahuan mereka dengan cara interaksi sehari-hari dengan masyarakatnya, orang tuanya dalam konteks kegiatan kehidupan keseharian mereka. Totally learning by doing.
Maka dalam masyarakat jenis ini kesarjanaan dan ilmu pengetahuan tak dihargai sebagaimana sekarang, ketrampilan praktis malah lebih dihargai. Pun di situ kegiatan belajar-mengajar terjadi dan berlangsung. Tak ada profesi guru, yang ada adalah semua orang guru dan semua orang murid.
Lalu tak berartikah peran guru karena sepanjang sejarah hidup tanpa guru tetap mungkin? Tidak! Sekali lagi tidak demikian adanya. Jaman dahulu telah berlalu dan jaman sekaranglah yang kita hadapi dan realitas yang ada di depan mata kita sekarang ini. Dengan dasar bahwa masyarakat tanpa guru memang mungkin terwujud dan pernah terwujud bukan alasan menolak peran guru. Kita harus bersyukur karena hidup lebih beradab dari masyarakat yang tidak memperdulikan kegiatan intelektual karena bukan merupakan hal praktis, masyarakat yang pernah hidup pada masa sebelum kita. Dan dalam kegiatan intelektual tersebut peran guru tak bisa disangkal.
Sudah seharusnya berkaca dan merenungkan keadaan kita sekarang. Kita memang hidup pada masa susah. Pemerintah miskin dan rakyat miskin, semua penuh keterbatasan dengan banyaknya hal yang harus dilakukan dan sedikit sumberdaya untuk mewujudkannya. Ditambah lagi banyaknya orang jahat tak bertanggung-jawab yang merusak kepentingan masyarakat demi kocek pribadi. Para koruptor, mafia peradilan, mafia birokrasi, oknum aparat hingga preman-preman pasar dan kriminal lainnya. Semua ini makin mempersulit keadaan kita dalam menyusun prioritas. Namun sekali lagi tak bisa kita abaikan peran guru. Merekalah salah satu pilar utama kegiatan intelektual masyarakat, merekalah salah satu pilar utama peradaban masyarakat masa kini.
Kamis, 05 November 2009
Resensi Film Ketika Cinta Bertasbih (KCB)

Film dibuka dengan kemegahan Mesir, serta kesibukan Azzam yang sibuk saat belanja buat usaha jual tempe dan bakso. Azzam membeli bahan tempe dan baksonya di pasar, sesekali dia memanggul bahan di bahunya dan meletakkanya ketika dia kelelahan, kemudian dipanggilkan taksi dan meluncurlah Azzam ke flat, tentu saja taksi melewati pyramid, megah….! 10-15 menit kemudian terfokus di perayaan KBRI dengan Azzam dan Eliana, Dien Syamsudin juga nongol disini lhooo (walau hanya sebagai cameo, tapi lumayan Pak, nampang!), yang paling berkesan sih saat Azzam membayangkan Eliana memakai jilbab, memang saat itu beberapa detik diperlihatkan Alice Nourin (pemeran Eliana) memekai jilbab, tak lama, mungkin hanya 4 detik.
Adegan demi adegan bergulir seperti isi novelnya, dari Azzam dan Pak Ali berjalan-jalan membicarakan pantai Cleopatra agak terganggu dengan cameo turis yang isng foto-foto dengan pose super narsis, jadi dialog antara Azzam dan Pak Ali agak terganggu, lha gimana, seisi penonton bioskop pada cekikikan smua… Adegan pengejaran bus oleh Azzam, Anna dan Erna juga seru, trus pingsannya Fadhil saat penggeledahan tamu tak diundang buat mencari Wail Kafuri, juga ada… Inilah point-point unek-unekku
- Khoirul Azzam : Kholidi Asadil Alam. Kholidi bagus banget memainkan tokoh Azzam, fisiknya memang sesuai bayanganku sebelumnya, kebapakan, karakter “kakak” dan “imam” sangat melekat. Saat Azzam marah kesannnya gimana gitu, bagus sih, tapi tak apalah.. selebihnya dapet banget lah.
- Ayatul Husna : Meyda Sefira. Aku gak ngerti, kenapa iklan film kok dibebankan pada dia, dari mulai Bank Syariah hingga Motor, heheee.. medoknya okeh, lucu dan lugunya juga okeh, Kemana-mana dia pake motor Mio, iklaaan euy!
- Furqon Andi Hasan : Andi Arsyil Rahman. Terlalu glamour.. glamour banget, spellingnya juga agak kaku, terutama saat mengucap “s”. Saat scene dimana dia divonis kena AIDS kurang dramatis.
- Eliana Pramesti Alam : Alice Sofie Nourin. Dalam bayanganku Eliana itu seperti Luna Maya, tinggi semampai, cantik berambut panjang, sopan, aku pikir Luna Maya juga bisa memerankan sama bagusnya dengan Alice Nourin. Gimana ya? Wajah Alice Nourin terkesan ketus alias tak ramah, hehee.. tak apalah, Alice Nourin bagus kok dengan karakter Eliananya, apalagi saat dia malu2 mengucap “French kiss” ke Azzam, kocak, hehee…
- Anna Althafunnisa: Oki Setiana Dewi. Wah, mbak Okki Setiana Top. Anggun, tak berlebihan, dan pass banget! Senyumnya manis, wajahnya jawa asli, jadi aku rasa pas dengan Anna, cantik-cantiknya orang jawa lah…
- Tiara : Tika Putri. Hmm… Tika Putri cuaaaaanntiiiik banget kalau pake jilbab, caaaantik, hampir saja aku tak mengenalinya. TiPut maennya bagus lah, terutama perhatiannya ke Fadhil saat di rumah sakit menunjukkan kalau dia sangat sayang pada Fadhil.
- Fadhil : Lucky Perdana. Lebih garang dikit knapa, Lucky? Lucky terlalu manis buat tokoh Fadhil, gak taulah
- Hafez : Kekocakan terletak pada tokoh ini, gara-gara sikap dan tingkah laku dia yang mengesankan suka dengan Cut Mala, kuooocaak! Mungkin tanpa ada tokoh Hafez, film KCB bakalan kayak film Dark Knight / Da Vinci Code yang musti serius banget nontonnya. Berkat tokoh Hafez inilah kekocakan dan tertawa terjadi
- Cut Mala : Palmaera Galda Pratiwi. ”Kulkasnya dibawa sekalian saja, Hahahahaa” saat dia mengucap dialog itu, tertawanya sangat lepas tak dibuat-buat. Sampai saat ini, aku masih terbayang-bayang dia, dia menari-nari dalam pikiranku…..
- Wan Aina : Silmi (nama panggilan). Kuliah di UI yang juga seorang putri dari psikolog terkenal Elly Risman. Silmi logat malaysianya kental banget.
- Scene pernikahan Tiara dengan Zulkifli sangat dramatis, Lagi dari Aceh berjudul “Saleum” yang dinyanyikan Fadhil sangat menyentuh, sayang scene tersebut terlalu cepatan, padahal aku mengharapkan lebih. Kan menurutku salah satu kekuatan KCB 1 ada pada kisah cinta Fadhil dan Tiara (seperti yang Kang Abik tuturkan saat seminar yang pernah aku ikuti).
- Scene saat bedah buku Menari Bersama Ombak karya Husnah, Anna begitu menghayati saat dia mendeskripsikan tentang Cinta (yang sebenarnya petikan puisi Rumi dalam Diwan Shamei Tabriz), kurang lebih demikian : “Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar, Namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri……. “
- Kan di Indonesia Eliana dikenal sebagai artis sinteron, coba deh perhatikan saat Eliana di layar TV, Pasti slalu adegan Eliana di kejar-kejar di hutan, kayak salah satu adegan Tarzan Cilik, heheee…..
- Film ditutup dengan kedatangan Azzam dan Eliana di bandara, kemudian diserbu wartawan mengkonfirmasi hubungan antara Eliana dan Azzam. Dan saat itu juga terlihat Husna melambaikan tangan ke Azzam, dan Azzampun tersenyum membalas lambaian tangan sang adik, trus bersambung dah….
- Ada cuplikan buat Ketika Cinta Bertasbih 2 kok… saat Azzam bertemu dengan sang Ibu… saat Azzam dipertemukan dengan Anna di rumahnya (Anna saat itu menyerahkan undangan pernikahan di kelaurga Azzam)… saat pernikahan Anna dan Furqan seraya Azzam berkata pada Anna, “Anna nitip Furqan yah? Dia sahabatku” …. saat Malam pertama Anna dan Furqan… dan saat Anna mau kabur dari rumah tapi ditegur bapaknya…. Hmmm….
- Adegan dalam novel yang dihilangkan : Secara keseluruhan film ini hampir sesuai dengan novel, ada beberapa adegan yang dihilangkan, seperti awal dalam novel saat Azzam, Eliana dan pak Ali dalam taksi yang mau berbelanja, padahal adegan itu aku rasa kalau dalam novel juga menggambarkan keindahan kota mesir… Sara Sa’duddin Zilzaf tak ikut pulang bersama satu pesawat dgn Azzam, hanya diceritakan Azzam pulan dengan Eliana. Sara Sa’duddin Zilzaf hanya muncul 2 scene saat menelpon Furqan… Tak ada mimpi Azzam yang bermimpi dia di Indonesia dan di rumahnya sudah ada gadis2 yang ada dalam novel, termasuk Anna Althafunnisa yang konon bercadar…
- Tak ada adegan sentuhan lawan jenis, apalagi peluk dan cium, tak ada sama sekali.. top dah! bener2 menggambarkan apa yang ada dalam novel…