Jumat, 20 November 2009

Opini

Ilmu pengetahuan jelas penting. Peradaban menjadi besar dengan adanya ilmu pengetahuan. Manusia berbeda dengan binatang dengan adanya ilmu pengetahuan, berakhlak dengan ilmu pengetahuan, berbudaya dengan ilmu pengetahuan dan beradab dengan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan merupakan anugerah dan rahmat Tuhan yang sangat berharga dan bernilai, entah mau diakui ataupun tidak.

Manusia terlahir nyaris tanpa ilmu pengetahuan sama sekali kecuali pengetahuan-pengetahuan naluriah seperti rasa sakit, bagaimana menangis dan hal-hal naluriah lainnya. Maka pengetahuan manusiawi diajarkan sehingga manusia menjadi paham terhadap ilmu dan mengetahui berbagai hal yang perlu diketahuinya. Inilah peran guru yang memang sepantasnya dihargai. Kita tentunya mengenal istilah 'pahlawan tanpa tanda jasa' yang dialamatkan kepada profesi mulia ini. Tentu, sebenarnya tidak adil juga jika gelar ini merupakan hak eksklusif milik guru semata. Tak adil jika tak ada yang boleh disebut dengan 'pahlawan tanpa tanda jasa' selain guru, maksudnya bahwa tak ada pahlawan selain guru.

Ada banyak pahlawan dalam masyarakat selain guru. Pembantu rumah tangga yang melayani majikannya secara baik merupakan pahlawan, tukang sampah yang menjalani profesinya dengan penuh komitmen terhadap kebersihan lingkungan juga pahlawan, polisi yang benar-benar melindungi masyarakat juga pahlawan, anak yang berbakti kepada orang tuanya juga pahlawan, pejabat yang benar-benar menjabat tidak untuk kepentingan pribadi dan benar-benar menjabat dengan baik juga pahlawan. Daftar ini sudah banyak, pun masih sedikit jika dibandingkan dengan banyaknya pahlawan-pahlawan lain dalam masyarakat yang tak tercantum di sini. Daftar ini belum final dan masih bisa bertambah jumlahnya.

Maka kesimpulannya ada banyak pahlawan dalam masyarakat selain guru. Pun demikian peran guru, yaitu guru yang baik tentunya, sebagai pahlawan dalam masyarakat tak bisa diabaikan dan jangan sampai diabaikan. Bagaimanakah jadinya masyarakat tanpa guru. Masyarakat tanpa ilmu.

Masyarakat terus berkembang semenjak peradaban pertama manusia dibentuk yang itu entah kapan dan dimana persisnya terjadi. Pada saat itu wajarnya sudah ada ilmu pengetahuan. Bahkan tanpa peradaban, dalam waktu sebelum manusia hidup dengan bentuk-bentuk cara hidup yang tergolong sebagai peradaban, itupun kalau saja manusia pernah mengalami masa-masa peradaban, maka waktu itupun sewajarnya ada ilmu dan ada transfer ilmu antar generasi dan ada bentuk-bentuk kegiatan belajar-mengajar antar manusia. Karena manusia bukanlah binatang yang hidupnya sendiri-sendiri secara naluriah. Karena manusia bukanlah binatang yang selama hidupnya dari hari pertama lahir hingga detik-detik terakhit ajalnya tak mempelajari sesuatu apapun hal baru. Dengan adanya kegiatan belajar yang sudah alami berada pada kehidupan manusia dan kegiatan melakukan kontak sosial dengan manusia lain maka sudah sewajarnya pula terjadi bentuk belajar-mengajarkan sesuatu meskipun sesederhana apapun hal yang diajarkan itu dan meskipun betapa pun primitif metode belajar-mengajar tersebut.

Tentu tak bisa dibayangkan bahwa terjadi metode belajar-mengajar masa kini berada pada sebuah kebudayaan masyarakat beribu tahun yang lalu dengan kondisi masyarakatnya tak menganggap penting ilmu pengetauan. Memang ada beberapa perkecualian beberapa kebudayaan besar masa lalu yang sudah mengehargai ilmu pengetahuan dan institusi pendidikan di tengah dunia primitif, Mesir Kuno dengan perpustakaan Alexandria-nya, Yunani dengan para ahli filsafatnya. Secara keseluruhan tetap sulit dibayangkan dalam sebuah dunia primitif ada sebuah kebudayaan, dengan beberapa perkecualian tadi, memiliki sebuah institusi pendidikan modern dengan dikelola manajemen organisasi yang modern dan profesional lengkap dengan kegiatan ekonomi -sistem pembayaran uang sekolah- dan perencanaan kegiatan belajar-mengajar dengan silabus yang terencana secara baik. Bahkan sulit dibayangkan adanya peran guru, maksudnya yaitu guru dalam pengertian sebuah profesi yang profesional yang kita yang pahami dalam kehidupan pada masa dan budaya kontemporer kita ini.

Maka dapat diambil satu kesimpulan lagi bahwa guru dalam konsep yang kita pahami sekarang ini sebenarnya merupakan konsep yang baru. Perkembangan konsep-konsep perndidikan sudah jauh berkembang dari semenjak jaman nenek moyang kita berabad lampau hingga masa kini, sehingga hal-hal seputar pendidikan yang kita kenal sekarang ini merupakan sesuatu yang sama sekali baru sekalipun kita melihatnya sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya ada. Mungkin jaman nenek moyang kita yang disebut guru adalah orang-orang bijak, sastrawan, cendekiawan dan agamawan yang dipercaya masyarakat untuk mengajarkan kesarjanaannya kepada generasi penerus dan mereka melakukannya dengan sukarela. Mungkin saja pada salah satu kebudayaan lain pendidikan dialkukan secara natural dalam masyarakat tanpa institusi pendidikan formal hanya meneruskan pengetahuan kepada generasi mudanya dengan cara para generasi muda tersebut menjalani kehidupan sehari-hari seperti para orang tuanya, dan dalam pengalamannya itu dia belajar. Dan mewarisi pengetahuan mereka dengan cara interaksi sehari-hari dengan masyarakatnya, orang tuanya dalam konteks kegiatan kehidupan keseharian mereka. Totally learning by doing.

Maka dalam masyarakat jenis ini kesarjanaan dan ilmu pengetahuan tak dihargai sebagaimana sekarang, ketrampilan praktis malah lebih dihargai. Pun di situ kegiatan belajar-mengajar terjadi dan berlangsung. Tak ada profesi guru, yang ada adalah semua orang guru dan semua orang murid.

Lalu tak berartikah peran guru karena sepanjang sejarah hidup tanpa guru tetap mungkin? Tidak! Sekali lagi tidak demikian adanya. Jaman dahulu telah berlalu dan jaman sekaranglah yang kita hadapi dan realitas yang ada di depan mata kita sekarang ini. Dengan dasar bahwa masyarakat tanpa guru memang mungkin terwujud dan pernah terwujud bukan alasan menolak peran guru. Kita harus bersyukur karena hidup lebih beradab dari masyarakat yang tidak memperdulikan kegiatan intelektual karena bukan merupakan hal praktis, masyarakat yang pernah hidup pada masa sebelum kita. Dan dalam kegiatan intelektual tersebut peran guru tak bisa disangkal.

Sudah seharusnya berkaca dan merenungkan keadaan kita sekarang. Kita memang hidup pada masa susah. Pemerintah miskin dan rakyat miskin, semua penuh keterbatasan dengan banyaknya hal yang harus dilakukan dan sedikit sumberdaya untuk mewujudkannya. Ditambah lagi banyaknya orang jahat tak bertanggung-jawab yang merusak kepentingan masyarakat demi kocek pribadi. Para koruptor, mafia peradilan, mafia birokrasi, oknum aparat hingga preman-preman pasar dan kriminal lainnya. Semua ini makin mempersulit keadaan kita dalam menyusun prioritas. Namun sekali lagi tak bisa kita abaikan peran guru. Merekalah salah satu pilar utama kegiatan intelektual masyarakat, merekalah salah satu pilar utama peradaban masyarakat masa kini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar