Jumat, 20 November 2009

Resensi buku laskar pelangi

Judul Buku : Laskar Pelangi

Pengarang : Andrea Hirata

Penyunting : Suhindrati a. Shinta

Penerbit : PT Bentang Pustaka

Jumlah Halaman : xviii + 534

Tahun Terbit : September 2005 (Cetakan Pertama, November 2007 (cetakan keduabelas).

Saya merasa ”norak habis” untuk membuat resensi buku Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Karena baru beberapa minggu atau hari lalu saya membeli buku dan membacanya tanpa henti. Sementara seribu lebih pembaca (per akhir Desember 2007) telah berkomentar dalam www.sastrabelitong.multiply.com sejak diterbitkan Laskar Pelangi di bulan September 2005. Lebih dari dua tahun lalu. Seratus persen berisi sanjungan untuk Andrea Hirata. Dan payahnya, saya belum juga mendapat kesempatan sebagai kesekian ribu penggemar Andrea dalam website (blog) tersebut karena saking banyaknya pengunjung, dan saking ”lemot”-nya internet di rumah. Namun tak apa-apa, setidak-tidaknya bisa berbagi dan berdiskusi dengan teman-teman sesama anggota CB-33.



Laskar Pelangi, walau dengan kualitas kertas di bawah buku Sang Pemimpi maupun Edensor, adalah ”ruh” awal yang diletakkan oleh Andrea untuk buku selanjutnya : Sang Pemimpi dan Edensor. Walau di dalam Sang Pemimpi dan Edensor, tokoh-tokoh awal Laskar Pelangi hanya disinggung sedikit, dan seakan sambil lalu. ”Ruh” awal sesungguhnya adalah jiwa atau pribadi si tokoh cerita : Ikal. Ikal tokoh tengil, cerdas, rendah hati, mudah penasaran terhadap sesuatu yang baru, suka bertualang, romantis, bertanggungjawab, mempunyai kegigihan dalam mencapai sesuatu, dan secara visual berambut keriting. Kegigihan dan kepercayaan akan tercapainya sesuatu digambarkan bukan serta merta tumbuh dari diri Ikal, namun di-”inisiasi” oleh tokoh-tokoh dan kondisi lingkungan Ikal sehari-hari. Tokoh Ikal terbaca sebagai Andrea Hirata. Karena Andrea bercerita mengalir seperti bila Sdr. Sunaryo Broto bercerita soal jalan-jalannya di Mesir, ataupun bila saya sendiri bercerita tentang pengalaman saya dengan lancar, seakan kenangan tersebut terekam kembali di pelupuk mata. Dalam http://pencintabuku.wordpress.com bahwa Andrea mengaku novel ini awalnya hanya merupakan catatan kenangan terhadap masa kecilnya di Belitong (bahkan juga pengalaman kehidupan dewasa yang dialaminya baru-baru saja dalam Edensor, dan agak baru dalam Sang Pemimpi).



Laskar Pelangi sesungguhnya adalah wajah kehidupan sebagian besar anak-anak Indonesia di era tahun 70 – 80’an, atau bahkan saat ini. Hidup prihatin, itu bagi kacamata orang dewasa yang mapan, dan menjadi ”emangnya gue pikirin” dan ”enjoy-enjoy saja” bagi anak-anak. Yang penting bermain dan bergembira, makan seadanya, kalau lelah tidur. Beres deh!. Walaupun pengalaman Andrea lebih spektakuler karena dia hidup di pulau yang keras namun indah : Pulau Belitong. Saya bayangkan betapa penghuni pulau tersebut kadang ”merasa sendirian” bila berjalan memutari pulau Belitong yang dikelilingi oleh lautan luas! Namun si Ikal and his gang-nya memanfaatkan kondisi lingkungan ini dengan penuh keceriaan dan syukur (yang awalnya mungkin suatu bentuk kepasrahan dari kondisi keseharian yang selalu dihadapi), yang nantinya akan bermanfaat bagi kehidupan selanjutnya. Andrea menggambarkan bagaimana kondisi pendidikan dari yayasan Muhammadiyah dengan sangat menyentuh. Ibu guru Muslimah yang mempunyai semangat tinggi mendorong siswa-siswanya agar menjadi seorang yang ”berhasil” dengan semangat tanpa tanda jasa (mengingatkan saya akan Bapak saya, baik sebagai seorang pendidik ataupun sebagai orang Muhammadiyah yang juga terlibat dalam yayasan pendidikan Muhammadiyah dan bersemangat ’45, tak jauh berbeda dengan Pak Harfan dan Bu Muslimah).



Dalam Laskar Pelangi kita diajak oleh Ikal untuk bertualang bersama anggota Laskar Pelangi yang lain : Lintang, Trapani, Mahar, Borek, Kucai, Sahara, A Kiong, Syahdan, dan Harun. Sepuluh anak. Memenuhi syarat agar SD Muhammadiyah Belitong masih tetap ada! Dalam Laskar Pelangi ini Ikal berkenalan dengan A Ling, kekasih platonisnya, yang selalu menyemangati hidup Ikal hingga dalam buku Edensor (mungkin hingga sekarang).



Seputar kehidupan PN (sebutan untuk Perusahaan Negara Timah Belitong) dikupas tuntas sesuai kaca mata Ikal yang terang benderang dengan metafora-metafora-nya yang pede habis.

Kehidupan sebagai anak pegawai rendahan PN, anak laut, siswa yang belajar di bawah gedung sekolah reyot (namun dinaungi oleh pohon filicium yang rindang dan merupakan satu komunitas yang dipenuhi oleh keceriaan hidup berbagai makhluk), bermain di saat hujan, perlombaan antar sekolah, dan euforia kemenangan khas anak-anak, memenuhi cerita ceria Ikal di masa anak-anak (SD) hingga menjelang remaja (SMP). Di Bab akhir Laskar Pelangi, Ikal bercerita tentang duabelas tahun kemudian setelah lulus SMP, dan bagaimana potret kesepuluh pasukan Laskar Pelangi di saat itu.



Sang Pemimpi, buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi. Dengan warna cover yang agak suram (abu-abu) dibandingkan cover buku pertama yang cerah merah jambu dengan siluet sekelompok anak bermain di pinggir laut. Cover ini bergambar seorang pria gagah yang merenung di ujung jalan kayu yang menjorok ke laut. Pose yang mengingatkan saya akan patung The Little Mermaide di pelabuhan Kopenhagen dengan versi lain (mungkin ini ide Andrea yang pernah juga singgah di Denmark selama berkeliling Eropa terobsesi oleh A Ling, tokoh cinta platonisnya, dalam buku ketiga : Edensor). Bercerita tentang seputar kehidupannya di masa SMA dan kebanggaannya dapat bersekolah di SMA Bukan Main, SMA Negeri Belitong. Sebuah SMA favorite di Pulau Belitong.



Dalam Sang Pemimpi, tokoh-tokoh pemberani tidak lagi berjumlah sepuluh orang lagi, namun ”hanya” tiga orang. Tanpa satupun dari kesembilan anak di Laskar Pelangi muncul lagi sebagai tokoh bersama Ikal. Mungkin karena keterbatasan mereka untuk dapat mendaftarkan diri ke sekolah menengah atas. Sesuai dengan kenyataan dalam masyarakat kita hingga hari ini bahwa tingkatan pendidikan tersebut masih dianggap cukup tinggi dan memerlukan biaya yang cukup besar. Hanya Ikal, Arai, dan Jimbron saja dari kampung mereka yang dapat melanjutkan ke SMA. Dalam buku pertama, saya tidak begitu mengerti mengapa Arai sama sekali tidak disebut-sebut oleh Andrea, padahal Arai sudah diangkat sebagai anak oleh Ayah Ikal pada saat Ikal juga masih SD. Sebagai pembaca, saya anggap cerita Laskar Pelangi ”seakan terputus” dengan Sang Pemimpi dalam hal satu ini. Dalam Sang Pemimpi, peran Arai sangat terlihat jelas dalam kehidupan Ikal, seperti tokoh Lintang dalam Laskar Pelangi. Persahabatan ketiga orang ini begitu unik. Arai digambarkan sebagai sosok yang tegar, penyayang, dan optimis. Sedangkan Jimbron, bertubuh besar, namun penakut, dan terobsesi akan kuda. Semangat hidup Ikal cukup banyak tergantung pada Arai. Saudara jauh yang sangat menyayangi dan melindunginya. Walau perawakan mereka hampir sama ”kecilnya”.



Dalam buku Sang Pemimpi banyak pengalaman lucu yang diceritakan oleh Andrea perihal Ikal, Arai, dan Jimbron. Soal bersembunyi dari kejaran guru galak, sampai masuk ke box pendingin ikan, sembunyi-sembunyi melihat film orang dewasa di bioskop yang membuat berdesir darah mudah mereka, hingga soal detik-detik penerimaan rapor mereka yang juga mempertaruhkan harga diri orang tua mereka masing-masing, karena ini menyangkut rangking di sekolah yang diumumkan di depan seluruh orang tua murid!



Betapa Andrea pandai sekali membuat pembaca terharu, membayangkan bagaimana ayah Ikal selalu memakai baju safari satu-satunya yang semalaman sudah diuapin dengan daun pandan untuk acara penerimaan rapornya, dengan mengayuh sepeda sejauh 30 km menuju SMA Bukan Main. Di akhir Bab, Andrea menggambarkan kepergian Ikal dan Arai untuk memeluk mimpi-mimpi mereka, seperti beribu-ribu penduduk Indonesia, menuju kota harapan, kota metropolitan : Jakarta!

Opini

Ilmu pengetahuan jelas penting. Peradaban menjadi besar dengan adanya ilmu pengetahuan. Manusia berbeda dengan binatang dengan adanya ilmu pengetahuan, berakhlak dengan ilmu pengetahuan, berbudaya dengan ilmu pengetahuan dan beradab dengan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan merupakan anugerah dan rahmat Tuhan yang sangat berharga dan bernilai, entah mau diakui ataupun tidak.

Manusia terlahir nyaris tanpa ilmu pengetahuan sama sekali kecuali pengetahuan-pengetahuan naluriah seperti rasa sakit, bagaimana menangis dan hal-hal naluriah lainnya. Maka pengetahuan manusiawi diajarkan sehingga manusia menjadi paham terhadap ilmu dan mengetahui berbagai hal yang perlu diketahuinya. Inilah peran guru yang memang sepantasnya dihargai. Kita tentunya mengenal istilah 'pahlawan tanpa tanda jasa' yang dialamatkan kepada profesi mulia ini. Tentu, sebenarnya tidak adil juga jika gelar ini merupakan hak eksklusif milik guru semata. Tak adil jika tak ada yang boleh disebut dengan 'pahlawan tanpa tanda jasa' selain guru, maksudnya bahwa tak ada pahlawan selain guru.

Ada banyak pahlawan dalam masyarakat selain guru. Pembantu rumah tangga yang melayani majikannya secara baik merupakan pahlawan, tukang sampah yang menjalani profesinya dengan penuh komitmen terhadap kebersihan lingkungan juga pahlawan, polisi yang benar-benar melindungi masyarakat juga pahlawan, anak yang berbakti kepada orang tuanya juga pahlawan, pejabat yang benar-benar menjabat tidak untuk kepentingan pribadi dan benar-benar menjabat dengan baik juga pahlawan. Daftar ini sudah banyak, pun masih sedikit jika dibandingkan dengan banyaknya pahlawan-pahlawan lain dalam masyarakat yang tak tercantum di sini. Daftar ini belum final dan masih bisa bertambah jumlahnya.

Maka kesimpulannya ada banyak pahlawan dalam masyarakat selain guru. Pun demikian peran guru, yaitu guru yang baik tentunya, sebagai pahlawan dalam masyarakat tak bisa diabaikan dan jangan sampai diabaikan. Bagaimanakah jadinya masyarakat tanpa guru. Masyarakat tanpa ilmu.

Masyarakat terus berkembang semenjak peradaban pertama manusia dibentuk yang itu entah kapan dan dimana persisnya terjadi. Pada saat itu wajarnya sudah ada ilmu pengetahuan. Bahkan tanpa peradaban, dalam waktu sebelum manusia hidup dengan bentuk-bentuk cara hidup yang tergolong sebagai peradaban, itupun kalau saja manusia pernah mengalami masa-masa peradaban, maka waktu itupun sewajarnya ada ilmu dan ada transfer ilmu antar generasi dan ada bentuk-bentuk kegiatan belajar-mengajar antar manusia. Karena manusia bukanlah binatang yang hidupnya sendiri-sendiri secara naluriah. Karena manusia bukanlah binatang yang selama hidupnya dari hari pertama lahir hingga detik-detik terakhit ajalnya tak mempelajari sesuatu apapun hal baru. Dengan adanya kegiatan belajar yang sudah alami berada pada kehidupan manusia dan kegiatan melakukan kontak sosial dengan manusia lain maka sudah sewajarnya pula terjadi bentuk belajar-mengajarkan sesuatu meskipun sesederhana apapun hal yang diajarkan itu dan meskipun betapa pun primitif metode belajar-mengajar tersebut.

Tentu tak bisa dibayangkan bahwa terjadi metode belajar-mengajar masa kini berada pada sebuah kebudayaan masyarakat beribu tahun yang lalu dengan kondisi masyarakatnya tak menganggap penting ilmu pengetauan. Memang ada beberapa perkecualian beberapa kebudayaan besar masa lalu yang sudah mengehargai ilmu pengetahuan dan institusi pendidikan di tengah dunia primitif, Mesir Kuno dengan perpustakaan Alexandria-nya, Yunani dengan para ahli filsafatnya. Secara keseluruhan tetap sulit dibayangkan dalam sebuah dunia primitif ada sebuah kebudayaan, dengan beberapa perkecualian tadi, memiliki sebuah institusi pendidikan modern dengan dikelola manajemen organisasi yang modern dan profesional lengkap dengan kegiatan ekonomi -sistem pembayaran uang sekolah- dan perencanaan kegiatan belajar-mengajar dengan silabus yang terencana secara baik. Bahkan sulit dibayangkan adanya peran guru, maksudnya yaitu guru dalam pengertian sebuah profesi yang profesional yang kita yang pahami dalam kehidupan pada masa dan budaya kontemporer kita ini.

Maka dapat diambil satu kesimpulan lagi bahwa guru dalam konsep yang kita pahami sekarang ini sebenarnya merupakan konsep yang baru. Perkembangan konsep-konsep perndidikan sudah jauh berkembang dari semenjak jaman nenek moyang kita berabad lampau hingga masa kini, sehingga hal-hal seputar pendidikan yang kita kenal sekarang ini merupakan sesuatu yang sama sekali baru sekalipun kita melihatnya sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya ada. Mungkin jaman nenek moyang kita yang disebut guru adalah orang-orang bijak, sastrawan, cendekiawan dan agamawan yang dipercaya masyarakat untuk mengajarkan kesarjanaannya kepada generasi penerus dan mereka melakukannya dengan sukarela. Mungkin saja pada salah satu kebudayaan lain pendidikan dialkukan secara natural dalam masyarakat tanpa institusi pendidikan formal hanya meneruskan pengetahuan kepada generasi mudanya dengan cara para generasi muda tersebut menjalani kehidupan sehari-hari seperti para orang tuanya, dan dalam pengalamannya itu dia belajar. Dan mewarisi pengetahuan mereka dengan cara interaksi sehari-hari dengan masyarakatnya, orang tuanya dalam konteks kegiatan kehidupan keseharian mereka. Totally learning by doing.

Maka dalam masyarakat jenis ini kesarjanaan dan ilmu pengetahuan tak dihargai sebagaimana sekarang, ketrampilan praktis malah lebih dihargai. Pun di situ kegiatan belajar-mengajar terjadi dan berlangsung. Tak ada profesi guru, yang ada adalah semua orang guru dan semua orang murid.

Lalu tak berartikah peran guru karena sepanjang sejarah hidup tanpa guru tetap mungkin? Tidak! Sekali lagi tidak demikian adanya. Jaman dahulu telah berlalu dan jaman sekaranglah yang kita hadapi dan realitas yang ada di depan mata kita sekarang ini. Dengan dasar bahwa masyarakat tanpa guru memang mungkin terwujud dan pernah terwujud bukan alasan menolak peran guru. Kita harus bersyukur karena hidup lebih beradab dari masyarakat yang tidak memperdulikan kegiatan intelektual karena bukan merupakan hal praktis, masyarakat yang pernah hidup pada masa sebelum kita. Dan dalam kegiatan intelektual tersebut peran guru tak bisa disangkal.

Sudah seharusnya berkaca dan merenungkan keadaan kita sekarang. Kita memang hidup pada masa susah. Pemerintah miskin dan rakyat miskin, semua penuh keterbatasan dengan banyaknya hal yang harus dilakukan dan sedikit sumberdaya untuk mewujudkannya. Ditambah lagi banyaknya orang jahat tak bertanggung-jawab yang merusak kepentingan masyarakat demi kocek pribadi. Para koruptor, mafia peradilan, mafia birokrasi, oknum aparat hingga preman-preman pasar dan kriminal lainnya. Semua ini makin mempersulit keadaan kita dalam menyusun prioritas. Namun sekali lagi tak bisa kita abaikan peran guru. Merekalah salah satu pilar utama kegiatan intelektual masyarakat, merekalah salah satu pilar utama peradaban masyarakat masa kini.

Kamis, 05 November 2009

Resensi Film Ketika Cinta Bertasbih (KCB)


Film dibuka dengan kemegahan Mesir, serta kesibukan Azzam yang sibuk saat belanja buat usaha jual tempe dan bakso. Azzam membeli bahan tempe dan baksonya di pasar, sesekali dia memanggul bahan di bahunya dan meletakkanya ketika dia kelelahan, kemudian dipanggilkan taksi dan meluncurlah Azzam ke flat, tentu saja taksi melewati pyramid, megah….! 10-15 menit kemudian terfokus di perayaan KBRI dengan Azzam dan Eliana, Dien Syamsudin juga nongol disini lhooo (walau hanya sebagai cameo, tapi lumayan Pak, nampang!), yang paling berkesan sih saat Azzam membayangkan Eliana memakai jilbab, memang saat itu beberapa detik diperlihatkan Alice Nourin (pemeran Eliana) memekai jilbab, tak lama, mungkin hanya 4 detik.

Adegan demi adegan bergulir seperti isi novelnya, dari Azzam dan Pak Ali berjalan-jalan membicarakan pantai Cleopatra agak terganggu dengan cameo turis yang isng foto-foto dengan pose super narsis, jadi dialog antara Azzam dan Pak Ali agak terganggu, lha gimana, seisi penonton bioskop pada cekikikan smua… Adegan pengejaran bus oleh Azzam, Anna dan Erna juga seru, trus pingsannya Fadhil saat penggeledahan tamu tak diundang buat mencari Wail Kafuri, juga ada… Inilah point-point unek-unekku

  • Khoirul Azzam : Kholidi Asadil Alam. Kholidi bagus banget memainkan tokoh Azzam, fisiknya memang sesuai bayanganku sebelumnya, kebapakan, karakter “kakak” dan “imam” sangat melekat. Saat Azzam marah kesannnya gimana gitu, bagus sih, tapi tak apalah.. selebihnya dapet banget lah.
  • Ayatul Husna : Meyda Sefira. Aku gak ngerti, kenapa iklan film kok dibebankan pada dia, dari mulai Bank Syariah hingga Motor, heheee.. medoknya okeh, lucu dan lugunya juga okeh, Kemana-mana dia pake motor Mio, iklaaan euy!
  • Furqon Andi Hasan : Andi Arsyil Rahman. Terlalu glamour.. glamour banget, spellingnya juga agak kaku, terutama saat mengucap “s”. Saat scene dimana dia divonis kena AIDS kurang dramatis.
  • Eliana Pramesti Alam : Alice Sofie Nourin. Dalam bayanganku Eliana itu seperti Luna Maya, tinggi semampai, cantik berambut panjang, sopan, aku pikir Luna Maya juga bisa memerankan sama bagusnya dengan Alice Nourin. Gimana ya? Wajah Alice Nourin terkesan ketus alias tak ramah, hehee.. tak apalah, Alice Nourin bagus kok dengan karakter Eliananya, apalagi saat dia malu2 mengucap “French kiss” ke Azzam, kocak, hehee…
  • Anna Althafunnisa: Oki Setiana Dewi. Wah, mbak Okki Setiana Top. Anggun, tak berlebihan, dan pass banget! Senyumnya manis, wajahnya jawa asli, jadi aku rasa pas dengan Anna, cantik-cantiknya orang jawa lah…
  • Tiara : Tika Putri. Hmm… Tika Putri cuaaaaanntiiiik banget kalau pake jilbab, caaaantik, hampir saja aku tak mengenalinya. TiPut maennya bagus lah, terutama perhatiannya ke Fadhil saat di rumah sakit menunjukkan kalau dia sangat sayang pada Fadhil.
  • Fadhil : Lucky Perdana. Lebih garang dikit knapa, Lucky? Lucky terlalu manis buat tokoh Fadhil, gak taulah
  • Hafez : Kekocakan terletak pada tokoh ini, gara-gara sikap dan tingkah laku dia yang mengesankan suka dengan Cut Mala, kuooocaak! Mungkin tanpa ada tokoh Hafez, film KCB bakalan kayak film Dark Knight / Da Vinci Code yang musti serius banget nontonnya. Berkat tokoh Hafez inilah kekocakan dan tertawa terjadi
  • Cut Mala : Palmaera Galda Pratiwi. ”Kulkasnya dibawa sekalian saja, Hahahahaa” saat dia mengucap dialog itu, tertawanya sangat lepas tak dibuat-buat. Sampai saat ini, aku masih terbayang-bayang dia, dia menari-nari dalam pikiranku…..
  • Wan Aina : Silmi (nama panggilan). Kuliah di UI yang juga seorang putri dari psikolog terkenal Elly Risman. Silmi logat malaysianya kental banget.
  • Scene pernikahan Tiara dengan Zulkifli sangat dramatis, Lagi dari Aceh berjudul “Saleum” yang dinyanyikan Fadhil sangat menyentuh, sayang scene tersebut terlalu cepatan, padahal aku mengharapkan lebih. Kan menurutku salah satu kekuatan KCB 1 ada pada kisah cinta Fadhil dan Tiara (seperti yang Kang Abik tuturkan saat seminar yang pernah aku ikuti).
  • Scene saat bedah buku Menari Bersama Ombak karya Husnah, Anna begitu menghayati saat dia mendeskripsikan tentang Cinta (yang sebenarnya petikan puisi Rumi dalam Diwan Shamei Tabriz), kurang lebih demikian : “Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar, Namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri…….
  • Kan di Indonesia Eliana dikenal sebagai artis sinteron, coba deh perhatikan saat Eliana di layar TV, Pasti slalu adegan Eliana di kejar-kejar di hutan, kayak salah satu adegan Tarzan Cilik, heheee…..
  • Film ditutup dengan kedatangan Azzam dan Eliana di bandara, kemudian diserbu wartawan mengkonfirmasi hubungan antara Eliana dan Azzam. Dan saat itu juga terlihat Husna melambaikan tangan ke Azzam, dan Azzampun tersenyum membalas lambaian tangan sang adik, trus bersambung dah….
  • Ada cuplikan buat Ketika Cinta Bertasbih 2 kok… saat Azzam bertemu dengan sang Ibu… saat Azzam dipertemukan dengan Anna di rumahnya (Anna saat itu menyerahkan undangan pernikahan di kelaurga Azzam)… saat pernikahan Anna dan Furqan seraya Azzam berkata pada Anna, “Anna nitip Furqan yah? Dia sahabatku” …. saat Malam pertama Anna dan Furqan… dan saat Anna mau kabur dari rumah tapi ditegur bapaknya…. Hmmm….
  • Adegan dalam novel yang dihilangkan : Secara keseluruhan film ini hampir sesuai dengan novel, ada beberapa adegan yang dihilangkan, seperti awal dalam novel saat Azzam, Eliana dan pak Ali dalam taksi yang mau berbelanja, padahal adegan itu aku rasa kalau dalam novel juga menggambarkan keindahan kota mesir… Sara Sa’duddin Zilzaf tak ikut pulang bersama satu pesawat dgn Azzam, hanya diceritakan Azzam pulan dengan Eliana. Sara Sa’duddin Zilzaf hanya muncul 2 scene saat menelpon Furqan… Tak ada mimpi Azzam yang bermimpi dia di Indonesia dan di rumahnya sudah ada gadis2 yang ada dalam novel, termasuk Anna Althafunnisa yang konon bercadar…
  • Tak ada adegan sentuhan lawan jenis, apalagi peluk dan cium, tak ada sama sekali.. top dah! bener2 menggambarkan apa yang ada dalam novel…

Selasa, 27 Oktober 2009

Lelaki dengan Bekas Luka di Jidatnya

Lelaki yang duduk tepekur di atas kursi malas yang diletakkan di kebun bunga dengan halaman tertutup rerumputan hijau lembut itu adalah seorang pemburu yang terkenal mahir menggunakan senapannya. Tak ada suara anak-anak di rumah itu sebab mereka semuanya, kecuali si bungsu, sudah pergi meninggalkannya mencari rezeki di kota-kota yang jauh, bahkan di sebuah pengeboran minyak lepas pantai di wilayah Ceram.

Mereka adalah anak-anak yang dulunya sangat rajin belajar dan berhasil menyelesaikan studi mereka di universitas-universitas terkenal. Putut, yang tertua, yang dulunya bekerja di pengeboran minyak lepas pantai, sekarang bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahaan asing berukuran raksasa, dan dia tidak pernah tinggal di satu kota besar dalam tempo yang lama. Kegiatannya berterbangan dari satu bandara ke bandara internasional yang lain, memberikan konsultasi yang mahal harganya, beristirahat akhir pekan di pantai negeri jauh, dan hanya sekali-sekali singgah di Jakarta. Tidak ada waktu untuk pulang ke Bali mengikuti berbagai upacara adat yang mengalir tak kering-keringnya dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Anggota keluarganya di desa selalu membicarakannya sebagai seorang sosok yang sangat dibanggakan oleh seluruh keluarga di kampung. Warga desa yang berhasil, seorang local genius yang sudah go international.

Bilamana mereka berkumpul di pura desa untuk sebuah upacara besar, sebuah piodalan , maka ketidakhadirannya dapat dimaafkan, sedangkan warga desa yang sudah merantau ke Denpasar atau bahkan ke Surabaya, bilamana tidak menghadiri upacara itu selalu dibicarakan.

"Berapa jauhkah Surabaya? Banyak bus malam yang melintasi desa kita, tetapi kenapa dia tak datang? Bukankah dia dapat menyisihkan waktu barang dua malam untuk pulang?"

Mungkin yang paling rajin pulang untuk menghadiri piodalan di desa maupun di sanggah keluarga adalah Dek Gung yang bekerja sebagai dosen Universitas Negeri Malang. Ada Bus Simpatik yang melayani penumpang dari Malang ke Singaraja, dan bilamana pulang, Dek Gung selalu menumpang bus itu, atau membawa mobil sendiri, datang dengan istri dan anak-anaknya. Dek Gung-lah yang paling mendapat pujian dari penduduk desa maupun dari keluarga, apalagi lelaki yang semasa mudanya itu aktif dalam kegiatan Teruna-Teruni di Banjar Bali di kota Singaraja sekarang sering memberikan dana punia untuk pembangunan desa maupun pura desa.

Mang Yul adalah anak ketiga, satu-satunya anak yang paling cantik dalam keluarganya sebab dialah anak perempuan satu-satunya. Adatnya santun sebagaimana diteladankan oleh ibunya. Dia sudah hidup bersama suaminya di Jakarta, dengan demikian tak banyak dibicarakan oleh orang sedesa karena dia sudah mengikuti keluarga suaminya yang berasal dari Badung.

Tut Sur adalah si bungsu, dan setelah itu tak ada lagi anak kelima. Bukan sebab lelaki itu mengikuti prinsip KB cara Bali, yakni beranak maksimum empat sebagaimana ditunjukkan oleh sistem penamaan anak-anak, tetapi karena Tut Sur membawa serta berita duka menyertai kelahirannya. Tut Sur-lah yang masih tinggal bersama lelaki tua yang dulu terkenal sebagai seorang pemburu yang mahir menggunakan senapannya itu, tetapi lelaki itu jarang berada di rumah walaupun tinggal bersama ayahnya.

Di rumah itu hanya tinggal tiga orang, lelaki itu bersama anaknya, seorang pembantu perempuan yang usianya sudah lebih dari enam puluh tahun, dan seekor anjing yang bertugas menjaga rumah di malam hari.

Ketika istrinya hamil anak keempat itu, permintaan yang mudah dikabulkan adalah seekor babi guling yang lezat, harus dimasak sendiri, dan harus berasal dari seekor babi hutan yang masih muda.
"Kalau itu urusan kecil," kata lelaki itu.

Maka dia pun berangkat sendirian ke arah hutan lindung di Bali Barat, perbatasan antara wilayah Buleleng dan Jembrana, namun dia tidak berburu di sana. Di mulut hutan dia berbelok ke kanan menuju arah pantai. Di situlah tempat sebaik-baiknya berburu babi hutan sebagaimana teman-temannya sesama pemburu pernah katakan. Di sana dia mungkin akan bertemu sesama pemburu dan akan mengadakan perburuan bersama. Di hutan lindung, di wilayah dekat Desa Cekik, menurut teman-temannya tidak aman. Bukan lantaran polisi hutan sering berkeliaran, tetapi lantaran penjaga hutan dari alam gaib tidak selalu ramah pada orang yang datang memasuki wilayah ini. Banyak sekali pantangan yang harus dipatuhi bilamana orang memasuki wilayah ini. Yang pertama, tentu, hati mereka tidak boleh kotor. Lalu, mereka tidak diperkenankan membawa daging sapi. Lalu, tidak boleh mengucapkan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan penjaga hutan di situ.

Pernah terjadi serombongan siswa SMA berkemah di wilayah itu bersama beberapa guru pembimbing. Sebelum berangkat, kepala sekolah sudah memberi pesan agar mereka berhati-hati berada di wilayah itu, tidak berbuat yang tak senonoh, berkata kotor, berpikiran kotor, dan tidak membawa bekal yang berasal dari daging sapi. Tidak boleh ada dendeng sapi, abon daging sapi, atau apa pun.

Salah seorang gurunya berasal dari Jawa dan tidak terlalu percaya pada hal-hal yang dianggapnya tahyul. Celakanya, ketika berada di wilayah itu dia ungkapkan ketidakpercayaan itu dalam kata-kata.

Tidak terjadi apa-apa, dan bapak guru itu semakin berani dengan mengatakan, "Bapak kan boleh makan abon, ya?" Lalu dengan enaknya dia menyantap abon yang dibawanya dari rumah dengan nasi bungkus yang disediakan panitia.

Tidak terjadi apa-apa, dan yakinlah dia bahwa apa yang dikatakan orang tentang semua larangan itu hanyalah tahyul belaka.

Ketika jam tidur datang, anak lelaki berkumpul dengan anak lelaki, dan siswa perempuan berkumpul dengan siswa perempuan dalam kemah mereka sendiri. Mula-mula terdengar teriakan dari kemah siswa perempuan.
"Ada yang bebainan ," teriak seorang siswa.

Ternyata bukan hanya seorang siswi yang bebainan, tetapi dua, tiga, lima. Sejumlah guru perempuan mencoba menolong, lalu guru lelaki ikut datang, lalu datang pula guru yang berbekal abon daging sapi itu, tergopoh hendak memberikan pertolongan.
"Aduh!" teriak lelaki itu, jatuh terkapar ke tanah, badannya kejang-kejang.
"Pak Man bebainan juga!" teriak para siswa panik.

Begitulah kisah teman-teman pemburu tentang Pak Man yang jatuh terkapar, dan ketika dicarikan dukun yang pandai, nyawanya ditebus dengan nasi kuning, bunga-bunga, dan sebaris doa.
"Kalau tidak, dia pasti mati. Nyawanya diminta oleh penjaga hutan."

Itu cuma salah satu kisah yang dapat ditimba dari wilayah itu. Masih banyak kisah lain yang terjadi tetapi tak tercatat. Misalnya tentang berpuluh mahasiswa yang tiba-tiba sakit perut.
"Lebih baik kita berburu di wilayah yang aman," kata pemburu itu.

Di langit tak ada bulan, hanya bintang yang bertebaran sampai memayungi laut. Dia menunggu dengan sabar sementara dari tadi dia tak bertemu seorang pun. Tiba-tiba dia mendengar suara semak-semak yang diterjang gerakan tubuh.
Dia pun bersiap-siap dengan senapannya.
"Ini pasti babi hutan," pikirnya.

Dan ketika suara semak belukar yang bergerak itu makin keras maka meletuslah senapannya dan terdengar tubuh yang rebah ke tanah.

"Ah, babi hutan besar yang terkena tembakanku," keluhnya, sementara istrinya minta seekor babi yang masih muda. Pelahan dia berjalan ke semak-semak itu, dan ketika dia menyorkan senternya ke arah bunyi rebah itu, dia tertegun tak berkata apa, tak bergerak.
"Tidak!!!"
Mematung beberapa saat lamanya, akhirnya dia lari meninggalkan tempat itu.
Kepada istrinya disampaikan warta bahwa semalaman tak dijumpainya babi hutan seekor pun.
"Mungkin mereka berpindah ke arah barat, tapi aku tak berani menginjak wilayah tenget itu," katanya.

Menjelang pagi istrinya mengeluh lantaran kandungannya terasa sakit. Dengan sepeda motor dia melarikan istrinya langsung ke rumah sakit. Ketika fajar tiba istrinya melahirkan anak mereka yang keempat, Tut Sur, Ketut Surya yang lahir ketika surya telah terbit. Ibunya meninggal saat melahirkan bayi yang sehat itu.

Lelaki itu menangis, dan seminggu kemudian dia menyembunyikan tangis yang lain dan menuai was-was yang makin bertunas, ketika dia membaca berita di harian Bali Post tentang mayat seorang lelaki dengan luka tembakan di jidatnya, ditemukan sudah membusuk di tengah hutan di wilayah pantai ujung barat Pulau Bali.

Tut Sur yang jarang tinggal di rumah itu ternyata dari jam ke jam berada di sudut kota, bicara dengan banyak orang yang tak terlalu mempedulikannya. Kadang dia bicara pada rembulan, kadang pada jembatan beton Kampung Tinggi yang kokoh. Pada suatu sore dia kembali ke rumah, bau badannya tak terlukiskan dan pakaiannya kotor. Pemburu itu masih duduk tepekur di kursi malas di tengah kebun bunga halaman rumahnya.

Tut Sur tiba-tiba menubruk lelaki itu, bersimpuh di pangkuannya dengan pertanyaan seorang anak yang haus akan jawaban:
"Ayah, ayah, kenapa ada luka di jidatku ini?"
Luka itu sudah ada sejak dia dilahirkan, tetapi kenapa dia baru bertanya sekarang?

Lelaki pemburu itu memegang kepala anaknya dengan kedua belah tangan dan dikecupnya bekas luka di jidat anak itu seolah dia ingin menghisapnya supaya tertelan ke dalam perutnya.
"Ya, Hyang Widhi. Kenapa tidak kau lubangi saja kepalaku agar anakku ini tidak menjalani siksa seumur hidupnya?"

"Ayah, ayah, kenapa ada bekas luka di jidatku? Apakah aku anak durhaka? Apakah aku Prabu Watugunung yang durhaka? Atau, apakah aku putera Dayang Sumbi?"
"Ah, siapakah yang mendongeng padamu, anakku? Ibumu bukan

Selangsah Asa Do'aku

Kala seberkas sinar terbersit jatuh di padang ilalang,

Tersentak aku terjaga dari bauian impian,

Aku menapakan langkah menyususuri sungai MU,

Tuk coba menemukan kembali kegaiban MU,

Suara jengkrik berceloteh riang menyusup…mengeletarkan hati,

Kegaduhan yang timbul terasa begitu hening,

Seakan diam…seakan tak bernyawa…sunyi dalam ramai,

Kurasa hanyalah aku sendiri kini,

Tuhanku,

Ampunkan hamba ini,

Andai KAU rasa aku mengusik istirahat Mu,

Karena dada ini seakan hendak meledak,

Menahan berjuta ritme yang menggemuruh,

Karena lama menahan rindu untuk MU,

Tuhanku,

Betapapun aku kadang jauh dari MU,

Coba Kau isyarakatkan padaku,

Bahwa Engkau selalu ada disampingku,

Seperti yang tertulis dalam ayat-ayat firman MU,

Laksana Matahari, Bintang dan Rembulan,

Menyirami dan melegakan jiwa ini,

Yang kadang terasa dahaga dikala hujan.

sumber

Selasa, 13 Oktober 2009

Kata baku dan kata tidak baku

Kata-kata baku adalah kata-kata yang standar sesuai dengan aturan kebahasaaan yang berlaku, didasarkan atas kajian berbagai ilmu, termasuk ilmu bahasa dan sesuai dengan perkembangan zaman. Kebakuan kata amat ditentukan oleh tinjauan disiplin ilmu bahasa dari berbagai segi yang ujungnya menghasilkan satuan bunyi yang amat berarti sesuai dengan konsep yang disepakati terbentuk.

Kata baku dalam bahasa Indonesia memedomani Pedoman Umum Pembentukan Istilah yang telah ditetapkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa bersamaan ditetapkannya pedoman sistem penulisan dalam Ejaan Yang Disempurnakan.

Dalam Pedoman UmumPembentukan istilah (PUPI)diterangkan sistem pembentukqan istilah serta pengindonesiaan kosa kata atau istilah yang berasal dari bahasa asing. Bila kita memedomani sistem tesebut akan telihat keberaturan dan kemanapan bahasa Indonesia.

Kata baku sebenanya merupakan kata yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang telah ditentukan. Konteks penggunaannya adalah dalam kalimat resmi, baik lisan maupun tertulis dengan pengungkapan gagasan secara tepat.

Suatu kata bisa diklasifikasikan tida baku bila kata yang digunakan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang ditentukan. Biasanya hal ini muncul dalam bahasa percakapan sehari-hari, bahasa tutur.


Baku
- Tidak Baku
  1. Apotek - apotik
  2. Atlet - atlit
  3. Cenderamata - cinderamata
  4. Konkret - konkrit
  5. Sistem - sistim
  6. Telepon - tilpon
  7. Pertanggungjawaban - pertanggung jawaban
  8. utang - hutang
  9. pelanggan - langganan
  10. hakikat - hakekat
  11. kaidah - kaedah
  12. dipersilakan - dipersilahkan
  13. anggota - anggauta
  14. pihak - fihak
  15. disahkan - disyahkan
  16. lesung pipi - lesung pipit
  17. mengubah - merubah
  18. mengesampingkan - mengenyampingkan
  19. Kualitas - kwalitas
  20. Universitas - university
  21. Teater - theatre
  22. Struktur - structure
  23. Monarki - monarkhi
  24. Devaluasi - defaluasi
  25. Abstrak - abstrac
  26. Kultur - culture
  27. Deputi - deputy
  28. Sekuriti - Security
  29. Aktivitas - aktifitas
  30. Relatif - relative
  31. Repertoar - repertoire
  32. Teknologi - tekhnologi; technologi
  33. Elektronik - electronik
  34. Direktur - director
  35. Konduite - kondite
  36. Akuarium - aquarium
  37. Kongres - konggres
  38. Hierarki - hirarkhi
  39. Aksi - action
  40. Psikiatri - psychiatry
  41. Grup - group
  42. Rute - route
  43. Institut - institute
  44. Aki - accu
  45. Taksi - taxi
  46. sekadar - sekedar
  47. memesona - mempesona
  48. imbau - himbau
  49. berpikir - berfikir
  50. nasihat - nasehat
  51. terempas - terhempas
  52. pukul 19.30 WIB - jam 19.30 WIB
  53. standardisasi - standarisasi
  54. objek - obyek
  55. sportivitas - sportifitas
  56. sportif - sportip
  57. aktivitas - aktifitas
  58. aktif - aktip
  59. pengkreditan - pengreditan
  60. mengkreditkan - mengreditkan
  61. antarnegara - antar negara
  62. pascapanen - pasca panen
  63. dasawisma - dasa wisma
  64. pancaroba - panca roba
  65. analisis - analisa
  66. anarki - anarkhi
  67. antre - antri
  68. azan - adzan
  69. nasihat - nasehat
  70. zaman - jaman
  71. kuitansi - kwitansi
  72. Izin - Ijin
  73. kuantitas - kwantitas
  74. Bus - Bis
  75. Diagnosis - Diagnosa
  76. Frekuensi - Frekwensi
  77. Karier - Karir
  78. Februari - pebruari
  79. Tidak - Nggak
  80. takwa - taqwa
  81. stoberi - strawberi
  82. rubuh - roboh
  83. provinsi - propinsi,profinsi
  84. tobat - taubat
  85. saraf - syaraf
  86. november - nopember
  87. maaf - ma'af
  88. kredit - kridit
  89. jumat - jum'at
  90. e-mail - email
  91. cabai - cabe
  92. amfibi - amphibi
  93. gemuk - gendut
  94. waria - banci
  95. kotor - jorok
  96. tahu - tau
  97. taoge - tauge,toge
  98. rizki - rejeki
  99. risiko - resiko
  100. negeri - negri
  101. petai - pete,petay

Minggu, 11 Oktober 2009

Argumentasi dalam Bahasa Indonesia

Argumentasi dalam Bahasa Indonesia adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang ditulis dengan tujuan untuk meyakinkan atau membujuk pembaca. Dalam penulisan argumentasi isi dapat berupa pembuktian, alasan, maupun ulasan obyektif dimana disertakan contoh, analogi, dan sebab akibat. Dengan tujuan agar pembaca yakin akan kebenaran yang ditulis oleh penulis.

Dalam paragraf argumentasi, biasanya ditemukan beberapa ciri yang mudah dikenali.
Ciri - ciri paragraf argumentasi antara lain adalah :
  1. Ada pernyataan, ide, atau pendapat yang dikemukakan penulis;
  2. Terdapat alasan, data, atau fakta yang mendukung;
  3. Teori atau pembenaran berdasarkan data dan fakta yang disampaikan.
Data dan fakta yang digunakan untuk menyusun wacana atau paragraf argumentasi dapat diperoleh melalui wawancara, angket, observasi, penelitian lapangan, dan penelitian kepustakaan. Pada akhir dari paragraf ini biasanya ditarik sebuah kesimpulan untuk membedakan antara pengembangan paragraf argumentasi dengan pengembangan paragraf lain.

Contoh paragraf argumentasi
Menurut Iskandar, sudah saatnya masyarakat mengubah paradigma agar lulusan SMP tidak latah masuk SMA. Kalau memang lebih berbakat pada jalur profesi sebaiknya memilih SMK. Dia mengingatkan sejumlah risiko bagi lulusan SMP yang sembarangan melanjutkan sekolah. Misalnya, lulusan SMP yang tidak mempunyai potensi bakat-minat ke jalur akademik sampai perguruan tinggi, tetapi memaksakan diri masuk SMA, dia tidak akan lulus UAN karena sulit mengikuti pelajaran di SMA. Tanpa lulus UAN mustahil bisa sampai perguruan tinggi. Pada akhirnya mereka akan menjadi pengangguran karena pelajaran di SMA tidak memberi bekal untuk bekerja.

Kesimpulan dari paragraf tersebut ialah memilih SMA tanpa pertimbangan yang matang hanya akan menambah pengangguran.

Tujuan yang ingin dicapai melalui pemaparan argumentasi ini, antara lain :
  1. Melontarkan pandangan / pendirian
  2. Mendorong atau mencegah suatu tindakan
  3. Mengubah tingkah laku pembaca
  4. Menarik simpati orang yang membacanya

Dalam pengembangan paragraf argumentasi terdapat berbagai macam pola yang digunakan. Pola yang digunakan dalam pengembangan paragraf argumentasi antara lain,

1. Pola analogi adalah penalaran induktif dengan membandingkan dua hal yang banyak persamaannya. Berdasarkan persamaan kedua hal tersebut, Anda dapat menarik kesimpulan.

Contoh :
Sifat manusia ibarat padi yang terhampar di sawah yang luas. Ketika manusia itu meraih kepandaian, kebesaran, dan kekayaan, sifatnya akan menjadi rendah hati dan dermawan. Begitu pula dengan padi yang semakin berisi, ia akan semakin merunduk. Apabila padi itu kosong, ia akan berdiri tegak.

2. Pola.generalisasi (umum) adalah penalaran induktif dengan cara menarik kesimpulan secara umum berdasarkan sejumlah data. Jumlah data atau peristiwa khusus yang dikemukakan harus cukup dan dapat mewakili isi paragraf.

Contoh :
Setelah karangan anak-anak kelas 3 diperiksa, ternyata Ali, toto, Alex, dan Burhan mendapat nilai 8. Anak-anak yang lain mendapat 7. Hanya Maman yang 6, dan tidak seorang pun mendapat nilai kurang. Boleh dikatakan, anak kelas 3 cukup pandai mengarang.

3. Paragraf hubungan sebab akibat adalah paragraf yang dimulai dengan mengemukakan fakta khusus yang menjadi sebab, dan sampai pada simpulan yang menjadi akibat.

Contoh :
Kemarau tahun ini cukup panjang. Sebelumnya, pohon-pohon di hutan sebagi penyerap air banyak yang ditebang. Di samping itu, irigasi di desa ini tidak lancar. Ditambah lagi dengan harga pupuk yang semakin mahal dan kurangnya pengetahuan para petani dalam menggarap lahan pertaniannya. Oleh karena itu, tidak mengherankan panen di desa ini selalu gagal.

Dilihat dari struktur informasinya, dalam paragraf argumentasi akan ditemukan beberapa hal diantaranya,
  1. Pendahuluan, bertujuan untuk menarik perhatian pembaca, memusatkan perhatian pembaca kepada argumen yang akan disampaikan, atau menunjukkan dasar-dasar mengapa argumentasi dikemukakan.
  2. Tubuh argumen, bertujuan untuk membuktikan kebenaran yang akan disampaikan dalam paragraf argumentasi sehingga kesimpulan yang akan dicapai juga benar. Kebenaran yang disampaikan dalam tubuh argument harus dianalisis, disusun, dan dikemukakan dengan mengadakan observasi, eksperimen, penyusun fakta, dan jalan pikiran yang logis.
  3. Kesimpulan atau ringkasan, bertujuan untuk membuktikan kepada pembaca bahwa kebenaran yang ingin disampaikan melalui proses penalaran memang dapat diterima sebagai sesuatu yang logis.
Pengembangan paragraf argumentasi sangat cocok digunakan pada penulisan - penulisan ilmiah, skripsi atau karya - karya ilmiah yang lain.


sumber